Breaking News

6 Sektoral Industri Halal Indonesia

SYARIAHPEDIA.COM. Halal sedang menjadi tren baru dalam dunia bisnis seiring semakin meningkatnya kesadaran masyarakat muslim untuk mengkonsumsi produk-produk yang berlabel halal. Tidak hanya terbatas pada kebutuhan konsumsi makanan dan minuman yang menjadi kebutuhan primer, tapi halal juga sudah menjadi gaya hidup seorang muslim untuk memenuhi kebutuhan sekunder maupun tersier nya.


Melalui Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia, pemerintah telah menetapkan bahwa industri halal merupakan bagian dari cakupan ekonomi syariah dan menjadi fokus utma pengembangan ekonomi Islam.

Lantas sektor apa sajakah yang menjadi cakupan Industri Halal ? Berikut ini adalah 6 sektor utama yang menjadi fokus pengembangan industri halal di Indonesia yang termuat dalam Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia 2019 - 2024.

1. Makanan dan Minuman

Makanan dan minuman adalah kebutuhan primer bagi setiap manusia. Bagi seorang muslim mengkonsumsi makanan dan minuman haruslah yang halal dan baik (thayyib). Alquran, seperti dalam Surat An-Nahl (16): 114, menyebutkan keharusan mengonsumsi makanan dan minuman yang halal dan baik. Konsumsi dua hal tadi yang mengandung dua nilai tadi akan mempengaruhi kualitas nutrisi dan kejernihan hati yang menentukan sikap.

Makanan halal di negeri ini berlimpah ruah, terutama di daerah yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Aneka hidangan khas Nusantara, seperti rendang, gulai, sayuran, dan sajian yang dipanggang, tersedia dengan berbagai kelezatan yang luar biasa. Sumatera Barat menawarkan kelezatan sajian tersebut. Daerah lain juga punya kekhasan aneka hidangan yang menggugah selera, sehingga menjadi daya tarik masyarakat dunia untuk datang ke Indonesia.

Untuk memastikan produk makanan dan minuman halal dapat melalui sertifikasi halal. Otoritas sertifikasi Halal di Indonesia sepenuhnya ditangani oleh LPPOM - Majelis Ulama Indonesia, Namun berdasarkan UU No 34 2014 akan diserahkan kepada BPJPH di bawah Kementerian Agama. Logo Halal MUI sudah dikenal di seluruh dunia dan diakui oleh berbagai badan setifikasi halal. Produk yang mencantumkan label halal menjadi pilihan utama Muslim secara nasional dan global. Sertifikat halal telah mendapatkan pengakuan 48 badan sertifikasi asing di 22 negara. Sementara itu, pada 8 Februari 2018 MUI telah mengakui Lembaga Sertifikasi asing (Certification Bodies/CB) dari 45 negara.

2. Pariwisata Halal

Kawasan KEK Mandalika NTB
Hal satu ini menjadi daya tarik berbagai negara di dunia. Mesi bukan mayoritas Muslim, seperti sejumlah negara di Eropa, mereka kini mengembangkan pariwisata halal. Ini adalah genre turisme yang ramah Muslim. Hal tersebut mencakup destinasi ramah Muslim, yaitu ada kandungan sejarah atau nilai Islam di dalamnya, seperti al- Hambra di Granada, dan berbagai situs warisan dinasti Islam di sana. Lainnya adalah pelayanan yang ramah Muslim, seperti hotel yang menyediakan perangkat alat shalat, arah kiblat, Alquran, dan tentu saja makanan halal.

Indonesia sudah mengembangkan pariwisata semacam ini. Kawasan wisata halal di negeri ini berkembang pesat di Nusa Tenggara Barat (NTB) misalnya. Di sana terdapat kawasan ekonomi khusus (KEK) Mandalika, yang memamerkan keindahan pesisirnya. 

Berdasarkan laporan Global Muslim Travel Index (GMTI) yang diterbitkan pada April 2018 menunjukkan peringkat Indonesia mengalami peningkatan dari ke-3 ke ke-2 (2017 – 2018). Beberapa industri pariwisata halal di Indonesia memperoleh penghargaan di ajang World Halal Tourism Awards 2016. Dari 16 kategori yang dikompetisikan, Indonesia berhasil memenangkan 12 di antaranya.

3. Fesyen Muslim

Jilbab Robbani termasuk fesyen muslim yang cukup terkenal
Busana Muslim menjadi daya tarik para perancang dan umat Islam di berbagai belahan dunia. Mereka menginginkan gaya elegan yang mempercantik penampilan, sehingga menambah percaya diri. Indonesia kini menjadi acuan perkembangan hal tersebut. Sejumlah perancang busana Muslim lahir dan tumbuh di negeri ini. Komunitas hijab juga bermunculan sebagai perkumpulan yang memperhatikan dan mengonsumsi berbagai busana Muslim terbaru. Tren ini menjadi ajang silaturahim yang mempererat persaudaraan dan melahirkan gagasan dan gerakan yang mendukung perkembangan tren busana Muslim dunia. Interaksi mereka berlangsung secara tatap muka dan juga daring melalui media sosial.

Secara global, pada tahun 2018 Indonesia menduduki peringkat ke-2 dalam top 10 gie indicator bidang fesyen Muslim dan menduduki peringkat ke-3 sebagai negara dengan pengeluaran Muslim apparel tertinggi. Angkanya sekitar 7,4 persen dari global expenditure. Hal ini mengindikasikan bahwa Indonesia merupakan negara yang terpandang di bidang fesyen Muslim.

4. Media dan Rekreasi Halal

Film Ketika Cinta Bertasbih merupakan salah satu film religi 
terlaris sepanjang masa
Industri kreatif bernuansa Muslim menjadi daya tarik masyarakat Indonesia. Di antaranya adalah karya kreatif berupa film dan animasi yang bermula dari novel. Contohnya adalah Ayat-Ayat Cinta. Awalnya adalah karya fiksi yang ditulis Habiburrahman Syirazi. Kemudian dikembangkan menjadi film yang tayang di layar lebar dan menyedot perhatian masyarakat nasional. Berbagai sinetron juga memasukkan nilai nilai Islam dalam sejumlah adegannya, sehingga menunjukkan kedekatan produk tersebut dengan mayoritas penduduk di negeri ini yang memeluk Islam.

State of the Global Islamic Economy Report 2018/19 menyebutkan angka USD 209 miliar. Uang sebanyak itu dimanfaatkan Muslim menghabiskan waktu untuk media dan rekreasi pada 2017. Pada 2023 nanti, Muslim diperkirakan menghabiskan USD 288 miliar untuk hal yang sama. Pengeluaran tersebut paling banyak didominasi oleh media dan rekreasi yang berasal dari Turki, Amerika Serikat, Rusia, Arab Saudi, Inggris, Indonesia, Jerman, Prancis, Mesir, dan Iran. Berdasarkan laporan tersebut, Indonesia tidak masuk ke dalam 10 besar di antara 15 negara teratas dalam jasa industri halal global. Di sisi lain, konsumsi masyarakat Indonesia terhadap produk media dan rekreasi halal berada di peringkat enam dengan nilai USD 8,8 triliun.

5. Farmasi dan Kosmetik Halal

Wardah adalah salah satu kosmetik halal yang 
sukses menguasai pasar nasional
Farmasi dan kosmetik halal merupakan produk yang terbuat dari bahan yang sesuai dengan syariat Islam. Kandungan itu bebas dari unsur binatang yang diharamkan dan yang disembelih tidak sesuai dengan tuntunan Islam. Komoditas itu harus diproduksi dan diproses menggunakan alat yang tidak tercampur oleh zat yang tidak sesuai dengan syariat. Dengan demikian, farmasi dan kosmetik halal merupakan harmonisasi dari syariat Islam, good manufacturing practice (GMP) serta bahan baku halal (Rina, Khanapi, & Hasan, 2013)

Produk obat-obatan dan kosmetik kini semakin menjadi daya tarik jika berlabel halal. Muslim Indonesia enggan mengonsumsi dua produk itu jika di dalamnya terdapat kandungan zat yang tidak halal. Hal ini terlihat jelas pada sikap umat Islam terhadap vaksin meningitis beberapa tahun lalu. Ketika terdengar bahwa vaksin itu mengandung unsur babi, maka mereka ramai-ramai menolaknya. Majelis Ulama Indonesia kemudian meneliti seperti apa kandungan vaksin tersebut, dan pada akhirnya memberikan label halal. Muslim yang hendak melaksanakan umrah dan haji mengonsumsi komoditas tadi.

6. Energi Terbarukan

Energi fosil akan semakin berkurang, karena konsumsi yang semakin bertambah. Energi terbarukan menjadi alternatif kebutuhan dunia sehingga mobilitas masyarakat tetap tinggi. Energi ini berasal dari tumbuhan dan rekayasa saintifik yang dikembangkan para ilmuwan.

Post a Comment

0 Comments